Rabu, 03 Juni 2015

Sex For Sale !!

Akhir-akhir ini media massa dihangatkan dengan berita mucikari online maupun posttitusi oline yang sedang heboh-hebohnya membanjiri media-media informasi dengan berita terkait, mulai dari penangkapan mucikari online, artis yang diduga terlibat prostitusi, sampai pejabat yang latah melibatkan diri dalam berita tersebut, dan hal tersebut tidaklah mengherankan, kalau kita melihat nilai tarif 1 kali pelayanan syahwat yang diberikan artis yang berinisial AA melalui jasa muckiari online tersebut, yang dikatakan mencapai 80 juta rupiah... wow nilai yang fantastis bagi banyak orang Indonesia yang masih berusaha bertahan hidup di negerinya sendiri...Tentunya hal itu juga merupakan suatu fenomena tersendiri yang tidak perlu kita ambil pusing, kecuali 80 juta  rupiah adalah uang receh yang siap dihamburkan kapan saja, cukup pemerintah saja yang mengurusinya dengan program-programnya untuk menghapuskan prostitusi dari negeri tercinta ini.... walaupun menurut saya itu sangat-sangatlah kecil kemungkinannya untuk dapat terealisasi....
lho koq nyaris tidak mungkin memberantas prostitusi ?

Tentunya bukan tanpa dasar saya berpendapat demikian, nyaristidak mungkin untuk memberantas prostitusi, demikian halnya dengan memberantas kemiskinan. Kalau memungkinkan mari kita simak sejenak tentang prostitusi...

Pelacuran atau prostitusi adalah penjualan jasa seksual, seperti seks oral atau hubungan seks,
untuk uang. Seseorang yang menjual jasa seksual disebut pelacur, yang kini sering disebut dengan istilah pekerja seks komersial (PSK).
Dalam pengertian yang lebih luas, seseorang yang menjual jasanya untuk hal yang dianggap tak berharga juga disebut melacurkan dirinya sendiri, misalnya seorang musisi yang bertalenta tinggi namun lebih banyak memainkan lagu-lagu komersil. Di Indonesia pelacur sebagai pelaku pelacuran sering disebut sebagai sundal atau sundel. Ini menunjukkan bahwa prilaku perempuan sundal itu sangat begitu buruk hina dan menjadi musuh masyarakat, mereka kerap digunduli bila tertangkap aparat penegak ketertiban, Mereka juga digusur karena dianggap melecehkan kesucian agama dan mereka juga diseret ke pengadilan karena melanggar hukum. Pekerjaan melacur atau nyundal sudah dikenal di masyarakat sejak berabad lampau ini terbukti dengan banyaknya catatan tercecer seputar mereka dari masa kemasa.
(sumber id wikipedia)

Bahkan dari sisa-sisa literatur kuno para ahi atropologi telah menemukan ternyata positusi sudah ada pada abad 18 sebelum masehi di babilonia dan mesopothamia kuno (sekarang lebih dikenal sebagai persia), kalau sejak dahulu prostitusi sudah ada dan dapat bertahan ribuan tahun sampai dengan sekarang, bukanlah hal yang mudah bagi pemerintah kita yang baru berusia puluhan tahun untuk memberantasnya. Kalau munculpertanyaan "kenapa" tentu jawabannya "karena"...
pendapat saya sendiri, kalau prostitusi dianggap sebagai suatu jual-beli, adanya hal tersebut diperkirakan karena adanya "suply dan demand" atau adanya kebutuhan dan penawaran. ya.. banyak orang menganngap sex adalah suatu kebutuhan yang perlu untuk dipenuhi, di sisi lain tidak sedikit orang yang beranggapan uang juga kebutuhan yang perlu dipenuhi, sehingga pada saat nasib mempertemukan keduanya terjadilah transaksi tersebut, ditambah lagi dengan semakin berkembangnya teknologi komunikasi saat ini, misalnya internet, maka semakin besar pula peluang bertemunya suply-demand tersebut....
Kalau muncul pertanyaan kembali apa itu sex, tentunya itu kembali pada orientasi masing-masing individu, bagi orang yang orientasinya keduniawian sex mungkin hanya sekedar kebutuhan akan hiburan, sarana kenikmatan, salah satu sarana berkembang-biak, dan wajarlah kalau akan muncul transaksi jual-beli ataupun barter untuk memenuhi kebutuhan tersebut.
Tetapi bila seseorang berorientasi keyakinan atau agama, tentunya memandang sex tadi sebagai sesuatu yang lebih tinggi lagi, yaitu sebagai rangsangan dari Illahi agar manusia mau memenuhi himbauan NYA untuk berumah-tangga dan berusaha untuk berkembang-biak...

Dengan menyimak sedikit ulasan di atas, kita sudah ada sedikit gambaran kenapa untuk memberantas prostitusi sangat-sangatlah kecil kemungkinannya kalau tidak diawali dari diri kita sendiri untuk merubah orientasi kehidupan kita, terlebih dalam situasi dan kondisi sosial-ekonomi negara dan bangsa kita saat ini....

Pola Hidup Modern = Uang ?

Ini posting perdana mengenai pemikiran saya, kalaupun sulit untuk dinikmati dan belum tentu enak untuk dibaca, jangan dijadikan beban... namun demikian kalaupun ada, mudah-mudahan ada manfaatnya untuk bahan berpikir.


shibuyaSiapa sih yang tidak mau atau tidak senang dengan gaya hidup modern, menurut pendapat saya mungkin banyak dari generasi muda maupun yang sudah setengah tua yang hidup baik di kota-kota besar maupun kota-kota kecil di Indonesia, berharap dapat menjalani kehidupannya dengan pola hidup modern, baik itu sekedar minimalis apalagi kalau berlebih.

Pola hidup modern itu sendiri menurut penggambaran saya, suatu pola kehidupan yang dijalani oleh pelakunya dalam kondisi yang cenderung berlebih, dengan sedikit akses ikatan sosial untuk mencapai suatu kepuasan dalam kehidupannya. Ciri-cirinya kelompok orang orang yang termasuk golongan ini menurut saya :

  • yang menjadi prioritas lebih cenderung untuk memenuhi kebutuhan tersiernya,
  • dalam menjalani proses didalam kehidupannya segala sesuatunya terukur dengan uang,
  • cenderung lebih terbuka terhadap sesuatu yang baru, terutama yang bersifat menghibur/enak,
  • sebagian penghasilannya digunakan untuk memenuhi kebutuhan tersier (mencari kepuasan)

Misalnya:

  • seorang yang menjalani kehidupannya dengan memiliki pekerjaan tetap dengan penghasilan tetap yang cukup untuk memenuhi kebutuhan primernya (kebutuhan pokoknya),
  • kebnyakan berpendidikan,
  • sudah punya tempat tinggal sendiri (idealnya di appartemen atau real estat),
  • memiliki kendaraan (motor-mobil),
  • memiliki tabungan,
  • secara rutin dapat memenuhi kebutuhan hiburan (dari sekedar nonton film-berlibur ke luar negeri),
  • dapat mengakses banyak informasi dengan mudah (dapat selalu online setiap saat)

Menyikapi pola kehidupan tersebut, saya sama sekali tidaklah menyalahkan hal tersebut, namun seperti kebanyakan mahluk di alam ini, hal tersebut memiliki sisi baik dan yang kurang baik, tinggal mana yang mau kita ambil.


Sisi baik pola kehidupan tersebut menurut saya adalah praktis, karena kebanyakan sesuatunya dapat diukur sehingga kita dapat memperkirakan apa saja yang diperlukan dalam suatu kegiatan sehingga irama kehidupan mengalir dengan cepat.

Namun demikian sisi yang kurang baik dari pola kehidupan ini menurut saya juga cukup banyak, salahsatu diantaranya : karena cenderung mengejar kepuasan (pemenuhan suatu keinginan), biasanya akan mengharuskan tercapainya suatu keinginan walaupun mengabaikan nilai-nilai kebaikan bahkan keselamatan, sehingga kalau dibiarkan berlarut-larut, baik terpenuhi atau tidak terpenuhinya keinginan-keinginan tersebut, kemungkinan besarnya nantinya akan mengarah kepada kehampaan, seolah-olah kehilangan tujuan dan sasaran dalam kehidupannya.

Nah, agar tidak menjadi seperti demikian, menurut saya perlu adanya keseimbangan atara usaha dalam memenuhi kebutuhan jasmani dan kebutuhan rohani (jiwa), dan dalam menyikapi setiap keinginan, baik yang mengusahakan untuk dapat memenuhi keinginannya maupun yang tidak berusaha untuk memenuhi keinginannya, hasilnya janganlah dibuat suatu keharusan untuk dapatnya terpenuhi, dengan kata lain terima saja apa hasilnya, sesuai atau tidak sesuai harapan.